MUTIARA-QOLBU

Wali Dan Wabah

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wali. Ia memiliki kelebihan, antara lain, bisa melihat dan berbicara dengan sesuatu yang tak tampak mata manusia biasa. Orang saleh itu kemudian bertemu dengan rombongan wabah penyakit yang sedang menuju suatu tempat.

Sang wali pun bertanya kepada mereka, “Kalian wabah penyakit akan ke mana?”

“Kami sedang bergerak menuju Damaskus. Kami akan memberikan ujian dan cobaan kepada umat manusia di kota itu dengan cara menjangkiti mereka,” jawab wabah.

“Akan berapa lama kalian di sana?” tanya wali itu.

“Dua tahun.”

“Berapa banyak yang akan sakit dan meninggal?”

“Seribu orang,” jawab wabah sambil berlalu meninggalkannya.

Selang beberapa waktu kemudian, tersiarlah kabar. Penduduk Damaskus panik lantaran kedatangan wabah. Di antara mereka, ada yang terpapar dan jatuh sakit. Tak sedikit pula yang meninggal dunia.

Dua tahun kemudian, waliyullah itu kembali berjumpa dengan gerombolan wabah yang sama. Ia pun menanyakan tentang bagaimana sebaran penyakit yang mereka tularkan di Kota Damaskus. Selain itu, ia juga hendak meminta penjelasan, berapa dari penduduk kota tersebut yang sakit dan wafat.

Para wabah pun menjawab, jumlah orang yang meninggal karena penyakit sebanyak 50 ribu orang.
Sang wali pun tercengang. Ia merasa heran karena jumlah korban jiwa ternyata jauh lebih banyak daripada keterangan awal yang mereka sampaikan sebelumnya, yakni seribu orang.

“Ya benar,” kata wabah, “Jumlah yang meninggal karena penyakit itu seribu orang. Namun, puluhan ribu orang lainnya itu wafat karena ketakutan melihat penyakit. Mereka takut berlebihan saat melihat orang sakit, orang mati, sehingga hati mereka jatuh pada kepanikan. Akhirnya, mereka pun meninggal dunia,” kata wabah menuturkan nasib 49 ribu orang yang gugur di Damaskus.

Secara khusus, kisah perjumpaan antara waliyullah dan wabah di atas kerap menjadi bahan renungan. Apalagi, dalam kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini.

Hikayat tersebut mengandung hikmah yang besar, kisah itu mengajarkan kepada manusia agar tidak terlalu takut dan panik di tengah situasi wabah. Sebab, kepanikan justru dapat semakin membahayakan kesehatan diri masing-masing.

Kisah itu mengajarkan kepada manusia agar tidak terlalu takut dan panik di tengah situasi wabah. Sebab, kepanikan justru dapat semakin membahayakan kesehatan diri.

Hal senada juga sudah disampaikan seorang sarjana Muslim era klasik yang pakar ilmu kedokteran: Ibnu Sina.

Sosok yang dikenal dunia Barat sebagai Avicenna itu menegaskan, kepanikan adalah separuh dari penyakit. Sementara itu, ketenangan adalah separuh obat, sedangkan kesabaran adalah awal dari kesembuhan total.

Tinggalkan kepanikan, tetapi jangan luput dari berikhtiar. Sebab, dalam ajaran Islam wabah memang berasal dari Allah Ta’ala, sebagaimana setiap peristiwa di langit dan bumi milik-Nya. Akan tetapi, wabah yang menimpa orang-orang yang beriman dapat diartikan sebagai rahmat atau kebaikan. Hal itu terjadi bila seorang Mukmin telah berusaha berlindung dari buruknya wabah.

Upaya itu diiringi dengan penuh tawakal, kesabaran, dan harapan akan memperoleh ridha-Nya. Bagi Mukminin yang gugur lantaran terkena wabah, ganjaran baginya adalah syahid. Statusnya seperti orang-orang yang wafat dalam perjuangan atau jihad fii sabilillah.

Semoga kita semua dapat melalui pandemi ini dengan sebaik-baiknya.

Sumber: Kitab Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Asfiya karya masyhur dari Abu Nu’aim al-Ashfahani (wafat 1038 Masehi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: