MUTIARA-QOLBU

Kisah “Abuya Mama Hasan Armin” ( Mutiara Banten )

Tanah Jawa Tempat Meracik Ke-Tauhid-aN

السّـــــلام عليکم ورحمة اللّه وبرکاته
بِسْــــــــــــــــــم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Raden Sastra Atmadja

Abuya Mama Armin. Pria segudang karomah kelahiran desa Kadujami, Menes Pandeglang Banten. Putra Haji Moch Tohir dan Hj Siti Sofiah yang berasal dari Ciomas, Kabupaten Serang-Banten.

Sewaktu Mama Armin berusia 5 tahun ibunda nya wafat. Sementara ayahnya hijrah ke Lampung, dan menjadi ulama besar dengan panggilan H. Rembang hingga wafat dan dimakamkan disana pula.

Mutiara Banten ini semula bernama Mohamad Armin. Ketika beliau berguru pada ulama besar di Mekkah yang bernama Kyai Haji Hasan yang berasal dari Lengkong Banten, nama nya berubah menjadi Abuya Mama Hasan Armin. Hasan adalah nama khunya dari guru beliau.

Kecerdasan, ketawadhuan, kepatuhan dan totalitas nya dalam menggali Ilmu Islam, membuat KH Hasan kepincut dan terpesona dengan keistimewaan yang dimiliki sang murid. Di tambah lagi dengan akhlaknya yang begitu luar biasa diatas rata rata.

Suatu saat sang Guru memanggil nya dengan mengatakan, “Min, mulai hari ini namaku menyatu dengan namamu, bukan di belakangnya tetapi di depannya, sehingga namamu menjadi Hasan Armin”. Setelah itu semua para santri dikumpulkan dan diadakan Upacara secara resmi, santri Moh Armin diabadikan namanya menjadi “Mohamad Hasan Armin”.

Pada sekitar tahun 1915an beliau menuntut ilmu ke Timur Tengah, untuk bergelut menimba ilmu lintas Negara. Bukan hanya Saudi Arabia saja, tapi Mesir, Palestina, Syiria, Libanon, Yordania, Turki, Kuwait, Qatar, Bahrain sampai Irak pun pernah dicicipi nya. Setelah 17 tahun malang me lintang menggali ilmu di negeri orang. pada tahun 1932an beliau pulang ke Indonesia lalu mendirikan pesantren dan menetap dibilangan Cibuntu.

Pria tanah Banten ini seperti magnet di era nya, yang mampu menarik tokoh tokoh besar kala itu. Bahkan tidak sedikit pula dari para pejuang kemerdekaan pendiri bangsa seperti Presiden RI Pertama Ir Soekarno dan Wakil Presiden RI Pertama Dr Moh Hatta sangat intens men-sowani beliau untuk silaturahmi. Bahkan Presiden dan Wakil Presiden Pertama bangsa ini tidak sungkan sungkan untuk meminta petuah atau nasehat pada beliau, terutama hal hal yang berkaitan dengan agama dan perjuangan bangsa dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang.

Kedua pendiri bangsa ini pun belajar ilmu pengetahuan kepada Abuya Hasan Armin Cibuntu atau kala itu santer dengan julukan Kiyai Sholawat. Hal ini bukan tanpa sebab sebab, karena masyarakat sering kali diijazahi Sholawat Nariyah sebanyak hitungan 4444x dalam waktu semalam harus khatam.

Pada tahun 1954an di malam hari. Rombongan Presiden RI bermaksud sowan kerumah beliau, kendaraan yang ditunggangi Presiden kala itu terjelembab dilumpur hingga tidak berkutik, semua orang yang ada dalam rombongan ikut mendorong tapi tak membuahkan berhasil apa pun. Diluar nalar tiba-tiba entah dari mana datangnya Abuya Mama Armin tiba tiba saja ada disitu dan menghampiri tunggangan Presiden RI lalu menusukan sebuah lidik kecil panjang ketengah ban yang terperosok di lumpur, diluar akal sehat mobil yang sedari tadi didorong banyak orang tapi tidak mampu keluar dari kubangan lumpur, mendadak bisa berjalan lancar bak kereta api yang melesat mulus diatas rel nya. Bahkan beliau juga menguasai berbagai bahasa sampai bahasa binatang, yang konon beliau tidak sekali dua kali melaksanakan sholat jum’at ke Mekkah walaupun beliau sedang berada di Cibuntu.

Keistimewaan sufi yang satu ini Menggetarkan tanah Jawa, ulama yang sangat diperhitungkan yang dibekali ilmu yang sangat mumpuni. Bahkan beliau juga seorang Mursyid Tarekat Qodiriyah Wanaqshabandiyah dari sanad silsilah Syeikh Muhammad Asnawi Caringin, dan KH Agung Asnawi selain menunjuk khalifah (wakil) kepada putranya KH Kazim juga menunjuk santri beliau Abuya Mama Armin Cibuntu Pandeglang.

Setelah wafatnya Syaikh Asnawi Caringin, maka tongkat estafet Ke-Mursyid-an untuk wilayah jalur Banten Syaikh TQN berada dibawah kendalii pria dengan seabrek karomah dari Cibuntu ini.

Dilihat dari garis keturunannya, Abuya Mama Armin adalah merupakan keponakan dari Syaikh Asnawi Caring in. Abuya Mama Armin Wafat pada tahun pada tahun 1988 M, lalu dimakamkan didaerah banten disekitar masjid jami’ ponpes cibuntu, bahkan sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi para peziarah untuk tabarukan.

Wafat nya Abuya Mama Armin tidak serta merta membuat redup TQN jalur Banten. Dari hasil racikan tangan sufi papan atas ini melahir kan generasi yang baru, beliau adalah Abuya Mama Ghufron Al Bantani. Pria yang digembleng habis habisan dengan cara dikubur hidup hidup selama empat puluh hari empat puluh malam lalu di perintahkan untuk melakukan perjalanan (musyafir) ruhaniah selama empat puluh tahun oleh gurunya (Mama Armin). Abuya Mama Ghufron Al Bantani juga memiliki keistimewaan yang sama persist seperti guru nya. Beliau Fasih banyak bahasa mulai dari bahasa Suryani, Ibrani, Arab dan lain lain nya. Bahkan beliau (Abuya Mama Ghufron Al Bantani) juga menguasai bahasa semut hingga binatang buas. Diyakini Ke-Ilmu-an pria pengarang Kitab Samawi Kalam Suryani ini adalah copy paste nya Mama Armin.

Hanya saja banyak yang belum mengetahui sosok beliau, karena beliau lebih banyak sembunyi ketimbang tampil dimuka umum. Dan bila saat nya nanti ketika beliau mulai keluar dari kamarnya, diyakini akan mengemparkan bukan hanya Indonesia tapi dunia.

Segudang fakta sejarah tidak dapat terbantahkan, kalau mbah nya sanad ke-ilmu-an Islam ada di tanah NUsantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: