MUTIARA-QOLBU

Hukum TEDHAK SINTEN dalam Islam

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kehidupan manusia dipengaruhi oleh empat unsur. yaitu Bumi, Api, Angin dan Air. Setiap unsur dihormati dengan berbagai macam upacara.

Salah satu upacara yang dilaksanakan sebagai penghormatan terhadap bumi disebut “TEDHAK SITEN”.

Upacara ini berkaitan erat dengan keberadaan bumi atau tanah, tempat manusia berpijak.
Pengertian Tedhak siten secara harafiah dapat diketemukan dalam Kamus Bahasa Jawa, di mana kata tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa : tedhak yang berarti turun dan siten-siti yang berarti tanah. Maka, tedhak siten dapat diartikan sebagai turun ke tanah atau menapakkan kaki ke tanah.

Upacara tedhak siten merupakan suatu syarat bagi manusia agar tidak mengalami kesulitan dalam menempuh hidup di kemudian hari. Oleh sebab itu, perhatian utama upacara ini ialah pada sa’at kaki seseorang menyentuh tanah untuk yang pertama kalinya. Harapan yang juga mucul dari penghormatan kepada bumi atau tanah ini ialah agar manusia sehat, selamat dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannya

Tedhak Siten suatu upacara dalam tradisi budaya jawa yang dilakukan ketika anak pertama belajar berjalan dan upacara ini dilaksanakan pada anak berusia sekitar tujuh atau delapan bulan.

Biasanya kesempatan bahagia ini harus diselenggarakan pada pagi hari dibagian depan dari pekarangan rumah. Sejumlah perlengkapan yang harus disiapkan dalam ritual ini adalah jadah tujuh warna, jadah merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih. Warna jadah tujuh rupa itu yaitu warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Jadah tujuh warna ini disusun dari warna yang gelap ke warna yang terang.

Selain jadah tujuh warna yang harus disiapkan adalah tumpeng, kurungan ayam dan tangga yang terbuat dari tebu. Pemilik hajatan juga harus menyiapkan uang koin dan bubur cocoh. Tumpeng merupakan nasi yang dibentuk seperti kerucut yang disajikan dengan urap sayur (hidangan yang terbuat dari sayur kacang panjang, kangkung dan kecambah yang diberi bumbu kelapa yang telah dikukus atau disangrai) dan ikung ayam. Sedangkan kurungan ayam tersebut dihiasi janur dan kertas warna-warni, kurungan ayam ini isinya bukan ayam tetapi seorang anak 😁😁

Prosesi ini diawali dengan membimbing anak menapaki jadah tujuh warna yang telah disusun berdasarkan warna gelap ke terang, kemudian si anak diarahkan untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu arjuna, selanjutnya si anak dimasukkan dalam kurungan ayam yang telah dihiasi dan didalamnya terdapat cincin, alat tulis, kapas, tasbih, uang, kitab dan lain sebagainya (ini sesuai dengan perkembangan zaman, mungkin untuk zaman sekarang bisa dimasukkan barang-barang IT (Hp, notebook, PDA dan lain sebagainnya) 😂😂. Kemudian si anak disuruh mengambil salah satu barang tersebut, barang yang dipilih si anak merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminati kelak ketika dewasa.

Prosesi selanjutnya yaitu sebar beras kuning yang telah dicampur dengan uang logam / koin untuk di perebutkan masyarakat. Prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi anak yang dermawan dalam lingkungannya.

Sebelum menapaki jadah tujuh warna si anak terlebih dahulu dimandikan dengan air kembang setaman lalu memakai pakaian yang baru. Tujuannya yaitu agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, punya kehidupan yang layak, makmur dan berguna bagi lingkungan.

•

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk mengamalkan ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang hamba Allah Ta’ala manakala telah meyakini nilai-nilai Islam sebagai ajaran yang benar, ialah mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan yang tidak diajarkan dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Sebab, pada diri seorang muslim harus terpateri sikap berserah diri, patuh, dan ta’at kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Seorang muslim harus menegakkan Tauhid dan memberantas kesyirikan, menghidupkan sunnah dan meninggalkan kebid’ahan.
Segenap tradisi peninggalan nenek moyang yang bertentangan dengan nilai-nilai syari’at harus dikubur. Tak selayaknya seorang muslim masih berkutat dengan nilai-nilai tradisi yang akan memudaratkan diri dan masyarakat.

Allah Ta’ala berfirman :
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”.
(al-Maidah: 50)

Demikianlah Allah Ta’ala memerintah hamba-Nya untuk meninggalkan segala ketentuan yang bertentangan dengan syari’at-Nya.

Allah Ta’ala berfirman pula :
“Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”.
(al-Maidah: 48).

Di antara sifat syari’at Islam adalah mudah untuk ditunaikan oleh pemeluknya. Tidak mempersulit dan membuat ribet. Simpel, praktis, dan terasa meringankan, tidak memberatkan.

Allah Ta’ala berfirman :
“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah”.
(Thaha: 2)

Firman-Nya :
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.
(al-Baqarah: 185).

Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon petunjuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: