MUTIARA-QOLBU

MELAFADZKAN NIAT PUASA ADALAH BID’AH

Diantara cuplikan debat antara ustad Firanda dengan Kyai MIR di Batam yang membuat saya tertawa mendengarnya (sebenarnya gak ingin tertawa sih, tapi koq lucu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) :

“Mengenai Talafuzh binniat (Melafadzkan Niat).

  • Kyai MIR berdalil dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika Nabi berdialog dengan siti Aisyah, karena Siti Aisyah tidak masak makanan dan tidak ada makanan yang bisa dimakan dirumahnya, maka Nabi mengatakan kepada Siti Aisyah : “idzan anaa shaa-im” (kalau begitu aku akan berpuasa) sebagai dalil bolehnya melafadzkan niat.
  • Ustadz Firanda menjawab : Hadits tersebut yaitu “idzan anaa shaa-im” (kalau begitu aku akan berpuasa), maksudnya adalah Nabi mengabarkan kepada Aisyah bahwa Nabi Puasa karena tidak adanya makanan, bukan dalil untuk Melafadzkan Niat Puasa, orang Nahdliyyin selama ini juga Melafadzkan niat dengan ucapan: “nawaitu shauma ghodinโ€ฆ dst”.
    Apakah ada diantara mereka mengucapkan niat dengan lafadh : “idzan anaa shaa-im”โ€ฆโ€ฆ??

-Kyai MIR menyanggah : “Nggak mesti dengan lafadz “nawaitu shauma ghodin”, lafadz apapun kalau maknanya sama gak papa, bebasโ€ฆ!!”

  • Ustadz Zainal Abidin menjawab : “Kalau memang seperti itu, anak-anak sekolah ujian, trus ada soal : “sebutkan niat puasaโ€ฆ??”
    Trus dijawab sama anak tersebut : “idzan anaa shaa-im” itu pasti disalahin dan dicoret sama gurunya, udah pasti salah.
  • Ustadz Firanda ketawa denger jawaban ustadz Zainal Abidin.

Saya juga nyengir ketika tahu bahwa ada niat puasa seperti itu, wahโ€ฆ berarti warga Nahdliyyin punya lafadz niat puasa baru sekarang yang dishahihkan oleh Kyai MIR. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

====================

NB :
As Suyuthi berkata,

ูˆู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุฃูŠุถุงู‹: ุงู„ูˆุณูˆุณุฉ ููŠ ู†ูŠู‘ุฉ ุงู„ุตู‘ู„ุงุฉุŒ ูˆู„ู… ูŠูƒู† ุฐู„ูƒ ู…ู† ูุนู„ ุงู„ู†ุจูŠ โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ูˆู„ุง ุฃุตุญุงุจุฉุŒ ูƒุงู†ูˆุง ู„ุง ูŠู†ุทู‚ูˆู† ุจุดูŠุก ู…ู† ู†ูŠุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจุณูˆู‰ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ. ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: ู„ู‚ุฏ ูƒุงู† ู„ูƒู… ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃูุณูˆุฉ ุญุณู†ุฉ

“TERMASUK BID’AH, WAS-WAS DALAM NIAT SHALAT. Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabat beliau tidak pernah begitu. Mereka tidak pernah sedikitpun mengucapkan lafal niat shalat selain takbir. Dan Allah telah berfirman:

ู„ู‚ุฏ ูƒุงู† ู„ูƒู… ููŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃูุณูˆุฉ ุญุณู†ุฉ

“Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik”.
(QS. Al Ahzab: 21).

Imam Asy Syafi’i berkata,

ุงู„ูˆุณูˆุณุฉ ููŠ ุงู„ู†ูŠุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆ ุงู„ุทู‡ุงุฑุฉ ู…ู† ุฌู‡ู„ ุจุงู„ุดุฑุน ุฃูˆ ุฎุจู„ ุจุงู„ุนู‚ู„

“Was-was dalam niat shalat dan thaharah itu adalah KEBODOHAN TERHADAP SYARI’AT atau KEKURANG WARASAN DALAM AKAL”
(Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, 28)

Melafadzkan niat itu menimbulkan banyak efek negatif. Anda lihat sendiri orang yang Melafadzkan niat dengan jelas dan rinci, lalu baru mencoba bertakbir. Ia menyangka pelafalan niatnya itu adalah usaha untuk menghadirkan niat.

Ibnu Jauzi berkata:

ูˆู…ู† ุฐู„ูƒ ุชู„ุจูŠุณู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ูููŠ ู†ูŠุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุŒ ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ูŠูŽู‚ููˆู„ : ุฃุตู„ู‰ ุตู„ุงุฉ ูƒุฐุง ุŒ ุซู… ูŠุนูŠุฏ ู‡ูŽุฐูŽุง ุธู†ุง ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ู†ู‚ุถ ุงู„ู†ูŠุฉ ูˆุงู„ู†ูŠุฉ ู„ุง ุชู†ู‚ุถ ุŒ ูˆุฃู† ู„ู… ูŠุฑุถ ุงู„ู„ูุธ ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ูŠูƒุจุฑ ุŒ ุซู… ูŠู†ู‚ุถ ุซู… ูŠูƒุจุฑ ุซู… ูŠู†ู‚ุถ ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูƒุน ุงู„ุฅู…ุงู… ูƒุจุฑ ุงู„ู…ูˆุณูˆุณ ูˆุฑูƒุน ู…ุนู‡ ูู„ูŠุช ุดุนุฑูŠ ู…ูŽุง ุงู„ุฐูŠ ุฃุญุถุฑ ุงู„ู†ูŠุฉ ุญูŠู†ุฆุฐ ุŒ ูˆู…ุง ุฐุงูƒ ุฅู„ุง ู„ุฃู† ุฅุจู„ูŠุณ ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠููˆุชู‡ ุงู„ูุถูŠู„ุฉ ุŒ ูˆููŠ ุงู„ู…ูˆุณูˆุณูŠู† ู…ู† ูŠุญู„ู ุจุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูƒุจุฑุช ุบูŠุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุฑุฉ ุŒ ูˆููŠู‡ู… ู…ู† ูŠุญู„ู ุจุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ู…ุงู„ู‡ ุฃูŽูˆู’ ุจุงู„ุทู„ุงู‚ ุŒ ูˆู‡ุฐู‡ ูƒู„ู‡ุง ุชู„ุจูŠุณุงุช ุฅุจู„ูŠุณ ุŒ ูˆุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุณู…ุญุฉ ุณู‡ู„ุฉ ุณู„ูŠู…ุฉ ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูุงุช ุŒ ูˆู…ุง ุฌุฑู‰ ู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุŒ ูˆู„ุง ู„ุฃุตุญุงุจุฉ ุดูŠุก ู…ู† ู‡ูŽุฐูŽุง

“DI ANTARA BISIKAN IBLIS YAITU DALAM NIAT SHALAT. Di antara mereka ada yang berkata ushalli shalata kadza (saya berniat shalat ini dan itu), lalu diulang-ulang lagi karena ia menyangka niatnya batal. Padahal niat itu tidak batal walaupun tidak diucapkan. Ada juga yang bertakbir, lalu tidak jadi, lalu takbir lagi, lalu tidak jadi lagi. Tapi ketika imam keburu ruku’, ia serta-merta bertakbir walaupun agak was-was demi mendapatkan ruku bersama imam.
Mengapa begini ??
Lalu niat apa yang ia hadirkan ketika itu ??
TIDAKLAH INI TERJADI KECUALI KARENA IBLIS INGIN MEMBUAT DIA MELEWATKAN BERBAGAI KEUTAMA’AN. Diantara mereka juga ada yang besumpah atas nama Allah untuk bertakbir lebih dari sekali. Ada juga yang bersumpah dengan nama Allah untuk mengeluarkan harta mereka atau dengan talak. Semua ini adalah bisikan iblis. Syari’at Islam yang mudah dan lapang ini selamat dari semua penyakit ini. Tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam tidak juga para sahabatnya melakukan hal demikian”.
(Talbis Iblis, 138).

Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon petunjuk.

Semoga bermanfa’at
Barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: