MUTIARA-QOLBU

Fitnah kebencian Wahabi sudah terjadi di abad ke-17 dan berkembang sampai sekarang

Sebenarnya fitnah kebencian yg diarahkan pada wahhabi sudah ada sejak lama … jauh sebelum idrus ramli atau uas memviralkannya di masa kini.

Adalah Daulah khurafah Utsmaniyah atau Kesultanan Turki Ottoman lah yg pertama kali memerangi wahhabi, yg sebenarnya tak lebih dari gerakan sosial di abad ke-17 yg mengajak kaum muslimin kembali pada ajaran Islam sesuai tuntunan Nabi ﷺ … bebas bersih dari bumbu2 bidah dan khurafat. Invasi Ottoman ke Najd thn 1811 oleh Muhammad Ali Pasha, Gubernur Ottoman di Mesir dan pengepungan Dir’iyyah oleh anaknya, Ibrahim Pasha pada thn 1818 adalah satu bukti dari usaha Kesultanan Ottoman menghentikan pengaruh wahhabi.

Pengepungan kota Dir’iyyah itu berujung pada penyerahan diri sang penguasa, Abdullah bin Saud yg mengharapkan imbalan pembebasan penduduk yg kelaparan akibat blokade kota yg berlangsung selama 6 bulan lamanya. Akan tetapi, penyerahan diri itu justru dibalas dengan pembantaian tak kurang dari 5000 penduduk dan ulama tauhid di Dir’iyyah. Abdullah bin Saud sendiri dibawa ke Istanbul dan “diadili” dgn vonis hukuman mati. Sebelum eksekusi dilangsungkan di halaman masjid Aya Sofia, beliau dipaksa untuk mendengarkan suara seruling sebagai bentuk pelecehan pada wahhabi yg mengharamkan musik. Sebagai penghinaan sekaligus peringatan bagi banyak orang, tubuh Abdullah bin Saud – semoga Allah merahmatinya – dipertontonkan di hadapan publik selama 3 hari. Potongan kepalanya diledakan di mulut meriam sebelum akhirnya dilemparkan ke selat Bosphorus 3 hari kemudian setelah diarak keliling kota.

Abdullah bin Saud dijatuhi hukuman itu atas tuduhan serangan wahhabi ke kota Karbala pada thn 1802. Sampai sekarang, peristiwa ini seringkali diangkat oleh para anti-wahhabi dan dijadikan dalil atau bukti kekejaman para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Tanpa mengupas rangkaian peristiwa lain yg melatar belakanginya, para pendengki itu banyak mengutip narasi dalam buku “du Pachalik du Baghdad Suivie d’une Notice Historique sur les Wahabis” karya Jean-Baptiste Rousseau. Orientalis Perancis ini menulis buku 7thn setelah peristiwa Karbala itu dan menggambarkan kekejaman wahhabi yg menjarah kota dan merusak “makam” Husain radhiyallahu ‘anhu. (Itu sebabnya sampai sekarang setiap teror yg mengatas namakan Islam, entah itu oleh Taliban, alQaeda, ISIS, IM, HT … semuanya disangkut pautkan dengan wahhabi atau salafi jihadi, padahal the true wahhabi pasti lah menentang aksi para mumetiyoon ini).

(Kembali ke laptop) … Lalu, mengapa penyerangan Karbala thn 1802 itu terjadi?

Seiring dengan makin diterimanya dakwah (pengikut) Syaikh Abdul Wahhab, di sisi lain makin kuat pula perlawanan dari kabilah2 yg merasa terganggu karena praktek keislamannya yg penuh bid’ah dan khurafat mendapat kritikan dari beliau. Salah satu perlawanan datang dari kaum Syiah, yakni Kabilah al-Jazail yg mendiami kawasan Karbala. Kabilah ini memprovokasi penguasa Ottoman di Irak dgn isu-isu pemberontakan yg akan dilakukan wahhabi. Provokasi ini akhirnya direspon oleh Sulaiman Pasha, wakil Ottoman di Irak yg mengerahkan pasukannya, dan dgn bantuan Kabilah al-Jazail menyerang Kabilah al-Ahsaa pada thn 1798. Invasi pertama Ottoman ke Ahsaa, satu wilayah Najd ini berhasil dihalau dan berakhir dengan perjanjian damai. Akan tetapi pada thn 1799, kaum syiah kembali melakukan ulah dengan menyerang dan membunuhi penduduk Najaf yg kala itu sudah menyatakan aliansi-nya dgn wahhabi.

Atas terbunuhnya 300 orang wahhabi di Najaf, penguasa Dir’iyyah meminta pertanggungjawaban kepada Sulaiman Pasha yg dianggap melanggar kesepakatan damai sebelumnya. Karena tuntutan itu tak ditanggapi oleh penguasa Ottoman, 3 thn kemudian pihak Dir’iyyah pun melakukan serangan balasan kepada Kabilah al-Jazail di Karbala; balasan ini dimaksudkan sebagai qishas terhadap penyerangan dan pelanggaran perjanjian damai yg dilakukan kaum syiah.

Invasi Ottoman dan serangannya ke wilayah2 Najd (1811-1818) pun tak lepas dari tekanan dan provokasi Syiah yg menuntut balas atas serangan di Karbala. Dalam suratnya, penerus dinasti Qajar yg menguasai wilayah Persia mengancam akan menyatakan perang pada Istanbul dan merebut Baghdad, jika Ottoman tak menghukum wahhabi di Dir’iyyah.

Jadi, fitnah dan kebencian thd wahhabi itu telah ada sejak lama; diawali dari Syiah, dibesarkan oleh Ottoman, dan diteruskan dari generasi ke generasi lalu selanjutnya diviralkan di zaman kita sekarang oleh orang semodel Idrus Ramli. Yg paling lucu adalah yai Idrus ini memposisikan diri sebagai aswaja garis lurus yg menentang kesesatan Syiah. Lucu dan menggelikan karena ia tertipu tak mampu melihat bahwa kebenciannya pada wahhabi adalah dakwah kaum Syiah juga, sama persis seperti tertipunya harakiyyun, uasiyyun dan felix & the gank oleh delusi kebangkitan “khilafah” ustmaniyah yg juga membenci wahhabi. Iya apa iya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: