MUTIARA-QOLBU

Perlawanan rakyat terhadap kolonialisme sudah ada sejak 350 tahun sebelum Indonesia merdeka

Pasca revolusi Bolshevik yg menumbangkan Tsar Rusia thn 1917, perhatian kaum merah komunis dialihkan pada wilayah2 yg kala itu berada dalam cengkraman imperialisme barat. Wilayah2 di Asia dan Afrika menjadi perhatian utama mereka, tak terkecuali wilayah Hindia Belanda yg kelak diproklamirkan menjadi negara Republik Indonesia.

Dalam pidato di kongres Communist International yg diselenggarakan di Moskow dan Petrograd – Juli 1920 dan dihadiri oleh Vladimir Lenin – Henk Sneevliet seorang tokoh pendiri ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) berkata: “Walaupun namanya kedengaran religius, Sarekat Islam memiliki karakter berkelas. Kita menghargai upaya gerakan revolusioner sosialis untuk membangun ikatan kuat dengan ormas, dengan ormas Sarekat Islam”

Dari pidatonya itu, jelas sekali terlihat maksud Sneevliet yg mempromosikan kerjasama antara kaum sosialis revolusioner dan muslimin di Hindia Belanda lewat mobilisasi kaum proletar untuk menumbangkan pemerintah kolonial Belanda. Sneevliet berkata: “Kongres ISDV pada 1918 membuktikan betapa besar pengaruhnya (kerjasama dgn Sarekat Islam -red) di kalangan bumiputera. Program revolusioner sudah disepakati, tak ada jalan lain untuk meraih kemerdekaan kecuali dengan cara aksi masa sosialis”

Itulah satu bukti bahwa ajaran Komunis meninggalkan warisan penting bagi kaum muslimin di Hindia Belanda, yaitu budaya perlawanan lewat aksi2 masa.

Betul, buku2 sejarah menulis bahwa perlawanan rakyat thd kolonialisme sudah ada sejak 350 thn sebelum Indonesia merdeka. Tapi perlu diingat, mayoritas perlawanan itu dipimpin oleh bangsawan, raja atau penguasa yg dirampas wilayahnya oleh kaum penjajah … Hasanudin, Diponegoro, Panglima Polim, mereka ini aslinya adalah orang2 dalam lingkaran penguasa daerah setempat. Jadi, selalu ada figur tokoh pemimpin sah dalam setiap perjuangan sebelum thn 1908. Sedangkan perlawanan yg diserukan kaum komunis adalah perlawanan rakyat dengan garis komando partai yg menggerakkan buruh, petani, pekerja dan the so-called ‘kaum tertindas’ lainnya … Mirip2 perlawanan parpol oposisi di era demokrasi, bukan?

Qaddarallah, lewat perantara komunis ini pulalah lahir tokoh2 penting kemerdekaan … sebut saja nama2 semisal Alimin, Amir Syarifuddin, Tan Malaka atau mungkin DN Aidit dan Wikana yg dengan semangat revolusinya turut andil menculik Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok, untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: