MUTIARA-QOLBU

Raja Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud rahimahullah rahmatan waasi’ah

Mereka yg membenci Arab Saudi selalu menganggap negeri itu sebagai antek Amerika, karena dianggap tak melawan zionisme atau tak peduli Palestina dsb dsb. Kalau bukan orang haroki semodel IM/HT atau anggota geng ‘Ölürüm Türkiyem’, ya pastinya mereka itu geng syiah. Mereka inilah yg sering membawa isu ‘Israel & Palestina’ untuk menyerang Arab Saudi demi menutupi agenda politiknya sendiri.

Tapi apakah benar tuduhan itu? Silahkan disimak sekelumit kisah sejarah ini.

Saat perang Arab-Israel 1973, Raja Faisal menghentikan pasokan minyak ke Amerika dan negara2 barat sebagai protes atas dukungan mereka untuk Israel. Jauh sebelum embargo diberlakukan di bulan Oktober, Amerika sudah mendapat peringatan karena terus mempersenjatai Israel.

Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri kala itu ditugasi Presiden Nixon untuk menyelesaikan krisis tsb. Kissinger melakukan pertemuan negosiasi sampai 10 kali dgn Raja Faisal dan hasilnya? NIHIL.

Di salah satu pertemuannya, Kissinger sempat mengancam: “If Saudi Arabia doesn’t lift the boycott, America will come and bomb the oilfields”. Mendapat ancaman seperti itu, Raja Faisal menjawab: “Anda adalah orang yg tak bisa hidup tanpa minyak. Anda tahu, kami adalah orang gurun. Para pendahulu kami hidup dari kurma dan susu, dan kami dapat dengan mudah kembali hidup seperti itu”.

Dalam pertemuan itu yg diselenggarakan di sebuah lokasi di gurun di wilayah Arab Saudi, saat jamuan makan malam, Raja Faisal menambahkan: “Anda pasti melihat tak satupun di sekitar kita ini berasal dari negeri asing. Daging ini berasal dari unta yg diburu dari lokasi setempat. Semua makanan berasal dari tanah Arab, bersumber dari kekayaan alam tanah Arab. Minyak lampu yg menerangi kita berasal dari ekstrak lemak unta. Jika anda berani menyerang, kami akan membakar sumur2 minyak itu dan kami siap kembali berkelana di gurun ini. Kami, seperti yg anda lihat akan survive. Bagaimana dgn anda?”

Lihat! Betapa beliau yakin bahwa ancaman yg diucapkan Kissinger tak akan berarti apa2 bagi Arab Saudi. Tekad Raja itu sekaligus membantah tuduhan bahwa Arab Saudi tak siap berperang karena dianggap tak siap hidup susah, atau cinta kemewahan duniawi. Dan satu hal yg perlu dicatat, semua itu hanya mungkin memancar dari Tauhid yg kuat tertanam …

Dalam memoar-nya, Henry Kissinger juga mengkisahkan bagaimana sebuah pertemuan di bandara Jeddah membuatnya kagum pada sosok sang Raja. Ketika itu Kissinger melihat kesedihan di wajah beliau. Karena bermaksud menghibur (sekaligus membawakan misinya), Kissinger membuat lelucon: “Pesawat saya tadi kehabisan bahan bakar. Apakah tuanku yg terhormat bersedia mengirimkan pasokan minyak yg mana kami bersedia membayar dgn tarif khusus internasional?” …. Menurut Kissinger, Raja Faisal tidak tampak tertawa sama sekali, justru beliau mengangkat kepala menatap tajam seraya berkata: “Dan Aku adalah seorang tua yg ingin bisa shalat di al-Aqsha sebelum mati. Akankah anda membantu mewujudkan keinginanku itu?”

Dalam interview lain, Raja Faisal ditanya: “Peristiwa apa yg ingin anda lihat di Timur Tengah?” Dan beliaupun sigap menjawab: “Yang pertama adalah (melihat -pent) musnahnya negara Israel”.

Dialog2 itu menunjukkan kemampuan diplomasi tingkat tinggi sang Raja, tentunya digabungkan dengan konsistensi dan kesungguhan. Konsistensi yg ia buktikan dengan memutuskan hubungan diplomatik thd 42 negara yg mendukung Israel. (Beda ya dgn Turkiyem yg cuma pandai diplomasi retorik).

Raja Faisal pun awalnya enggan mengakhiri embargo, kalau saja pada pertemuan pemimpin negara Arab yg dihadiri semodel Anwar Sadat, Hafiz Assad di Aljazair (12-14 Februari 1974), pemimpin2 itu tak berbalik menekannya. Anwar Sadat justru yg paling gigih membujuk setelah Israel menjanjikan menarik pasukannya. Dan embargo pun berakhir tgl 17 Maret 1974, sekira seminggu setelah Israel menarik pasukan terakhirnya dari Suez/Sinai. Akan tetapi, keraguan Raja Faisal juga terbukti, karena Israel sama sekali tak mundur dari Dataran Tinggi Golan (yg direbutnya dari Suriah).

Semua itu menunjukkan kesungguhan Raja Faisal dalam menentang Zionisme. Kesungguhan yg orang2 terdekatnya pun mengakui. Berkata cucunya, Pangeran Amr bin Muhammad Al-Faisal “Tahun 1967 dan kejatuhan al-Quds ke tangan Israel adalah titik balik kehidupan Raja Faisal. Ia tak pernah tersenyum lagi. Saya tak melihatnya banyak tersenyum lagi. Ia menjadi sangat pendiam dan penyendiri”

Raja Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud rahimahullah rahmatan waasi’ah ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: