MUTIARA-QOLBU

TAUHID kisah hidup Raja Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud rahimahullah rahmatan waasi’ah

Pada 22 Februari 1974 diselenggarakan pertemuan negara2 yg tergabung dalam OKI di kota Lahore, Pakistan. Pertemuan ini diselenggarakan di tengah berlangsungnya embargo minyak sebagai respon atas dukungan negara2 barat untuk Israel dan juga perang Arab-Israel di bulan Oktober 1973.

Embargo yg diprakarsai Saudi Arabia itu benar2 menjungkalkan perekonomian negara barat. Embargo menyebabkan harga minyak dunia naik 4 kali lipat. Kondisi ini membuat Eropa dan Amerika menderita dan memaksa warganya kedinginan sepanjang winter 1973. Semua bursa saham dunia mengalami kejatuhan dan Amerika mengalami resesi hebat yg perlu waktu setidaknya satu dekade untuk menormalkannya.

Di sela2 pertemuan OKI tadi, Presiden Pakistan kala itu, Zulfikar Ali Bhutto sebagai tuan rumah mengajak Raja Faisal berkunjung ke makam Hazrat Lal Shahbaz Qalandar yg terletak di Sehwan Sharif, Sindh. Shahbaz Qalandar ini adalah tokoh sufi, yg hidup di abad ke-13 dan haul kematiannya selalu dirayakan setiap tahunnya. Seperti halnya tradisi sufi, Ziarah itu dimaksudkan oleh Bhutto untuk mendapatkan semacam berkah dari makam tsb dalam rangka menghadapi tekanan barat pada negara2 Islam.

Lalu, apa respon raja Faisal ketika itu?

“Jika mendirikan bangunan di atas kubur diperbolehkan (dalam syariat Islam -pent), kami akan memilikinya juga di atas kubur Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan kami akan membuatnya dari emas lalu beribadah di tempat itu”

Itulah bukti keteguhan tauhid seorang raja; menghadapi tekanan negara2 adidaya dimana beliau sama sekali tak mengendorkan keyakinannya untuk tetap mentauhidkan Allah saja. Hal ini dibuktikannya sampai akhir hidup beliau; ketika ia menanggapi ancaman pembunuhan yg diterimanya dgn jawaban: “Jika itu adalah kehendak Allah, maka itu akan terjadi”. Dan benar saja, ia terbunuh pada 25 Maret 1975 oleh Faisal ibn Musaid, kemenakannya sendiri.

Begitulah sedikit pelajaran tauhid dari kisah hidup Raja Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud rahimahullah rahmatan waasi’ah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: