MUTIARA-QOLBU

Pejuang kemanusiaan Dr.dr.Adnan Ibrahim, SpPD.Dr.dr.Adnan Ibrahim, SpPD.

Semoga beliau husnul khotimah,,,

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

Kembali Covid 19 mengambil orang-orang yang kita cintai. Kali ini kami kehilangan seorang sahabat dan saudara, Dr.dr.Adnan Ibrahim, SpPD. Dalam usia yg masih muda, sekitar 48 thn 😭

Pejuang kemanusiaan yang tidak kenal lelah mengabdikan dirinya siang dan malam untuk menolong orang-orang yang sakit, sampai wabah Pandemi ini datang, beliau tidak pantang mundur, semakin sibuk mengurus pasien2 Covid

Kami bersaksi beliau orang yang sangat baik, sederhana, sangat perhatian bagi yang membutuhkan bantuannya. Dan di tengah kesibukan beliau di dunia kesehatan, masih mengabdikan waktunya melahirkan generasi2 soleh berprestasi di SDIT Al Fatih

Wafat di waktu berkah di penghujung jum’at tadi, 14 Agustus 2020 jam 17.50 di RS Wahidin Makassar dan dalam keadaan terkena wabah Covid, Insya Allah Syahid untukmu Dok. Sudah tiba waktu istirahat. Semoga Allah meliputi engkau dengan rahmatNya dan diberikan tempat kembali yang terbaik..SyurgaNya..aamiin 😇

Semoga beliau husnul khotimah,,,

Dan dibawah ini adalah sebuah tulisan dr Ade Hashman, sahabat dr Adnan Rahimahullah :

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Insya Allah syahid engkau sahabatku, Dr.dr Adnan Ibrahim SpPD

Aku bersaksi engkau orang baik, bahkan teramat baik…

Dua bulan yang lalu saat kita masih berdiskusi tentang covid dgn segala bahayanya, engkau banyak memberi pencerahan buat kami.

Aku bersaksi ya Allah Rabbul alamiiin Adnan hambaMu adalah orang yang shalih.


Bulan Maret… saat awal pandemi mulai ribut di indonesia, aku sempat kirim wa gambar “masker bedah biasa yg dihecter plastik atasnya” buat kupakai sekedar ala-kadar utk melindungi saat kerja.
Langsung engkau japri aku saat itu minta alamat rumahku…
Sambil berkata
“Ade, ini aku mau kirim masker N95 2 bh buat dipakai disana ya?”.

Dan tiba- tiba… berita datang menyentakan diriku.
Kamu yg berjuang di episentrum pandemi terkena covid19.
Sungguh syok aku mendengarnya.

Dan Aku diperjalankan untuk mengikuti kisahmu secara online.
Dan kisah ttg kebaikan-kebaikanmu, seperti sejak dulu, selalu saja tetap mengalir.


Hari kedua engkau menjalani perawatan di ruang IC-Covid, dipasanglah masker yg menutup wajah yang terhubung mesin ventilator non-invasive. Terasa berat sudah nafasmu, tak leluasa juga utk berbicara. Tapi di saat begitu, engkau masih menyempatkanmengirim isyarat untuk istri tercinta didepanmu. Di tautkan ujung telunjuk kanan kiri serta jempol tangan kanan kirimu, sebuah pertanda simbolik yang bermakna : I love You : (My beloved Wife).


Hari ke delapan, engkau masuk ICU. Masih terjaga baik kesadaranmu saat itu. Dengan nafas yang makin terasa berat, masih sempat engkau melihat pasien yang tergeletak tak berdaya disampingmu dengan pandangan penuh sayang dan rasa empati. Dari balik masker snorkle engkau bisikkan ke telinga istri, “Mi, tolong belikan pakaian pasien disebelah saya, kasihan kainnya sering tersingkap”. 😭😭😭


Hari ke Sembilan.
Mesin ventilator yang non-invasive sudah tak mampu lagi mengkompensasi kebutuhan nafasmu yang semakin tambah memberat. Team dokter ICU memutuskan mengintubasi.
Engkau meminta waktu sejenak, untuk sholat subuh diatas ranjang dua rakaat sebelum tindakan besar ini diberikan padamu. Sholat yang senantiasa berpuluh tahun engkau jalani sebagai wujud kesetiaanmu sebagai seorang hamba pada khaliqNya, terasa sangat intimasi suasananya di pagi itu.
😭😭😭

Bismillahi tawakkaltu ‘alalllAllahi… kupasrahkan hidup ini padaMu Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim…


Allah sayang padamu Sahabat… bahkan sangat menyayangimu…
Teman2 seangkatanmu mengiringi kepergianmu dengan lafazh talqin bersama-sama secara online.
Kita semua menjadi saksi kebaikanmu.

Kalau engkau pernah bilang di wag, tolong cari saya di akhirat nanti bila nasib saya “tdk beruntung…” tapi… sekarang akulah yang semakin yakin sepenuhnya bahwa kami teman-temanmu, yang malah berharap engkau menemukan kami nanti dikehidupan akhirat nanti.

Insya Allah engkau syahid Sahabatku…😭😭😭


Dari dr. Fuhul Arbian Imran, teman seangkatan dr. Adnan :

Almarhum adalah sahabat saya.. kostnya juga nggak jauh dari kost saya waktu kuliah dulu

Kalau berangkat kuliah selalu barengan.. jalan kaki ke tempat kuliah.

Almarhum adalah :

  • Ketua Angkatan FK UGM 91
  • Ketua BEM FK UGM
  • Pernah juga menjabat jadi Ketua ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) 2 periode
  • Ketua KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada) Makasar
  • Beliau adalah pendiri SIT (Sekolah Islam Terpadu) Al-Fatih, yg lumayan sudah jadi sekolah favorit di Makasar.

Meskipun udah bergelar DR, tapi almarhum nggak mau ngoyo praktek di sana sini..(praktek di RS DKT Pelamonia, Makasar), tapi dgn sang istri malah ikhtiar mendirikan sekolah islam di makasar..😭

Istrinya sekarang masih diisolasi, anaknya yg SD juga diisolasi, yg paling kecil nggak boleh keluar rumah, sedang yg sulung masih ketahan di Jogja (nggak boleh pulang) kuliah di FK semester 2

Tadi waktu sakaratul maut, kita semua seluruh angkatan mendampingi dan melepas kepergian almarhum (meski sebatas online via WA ) 😭😭

Sumber : Khanif Muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: