MUTIARA-QOLBU

BINGUNG MENENTUKAN IMAM SHALAT INI URUTAN UNTUK MENJADI IMAM DALAM SHALAT

Sudah menjadi kejadian umum dan mengakar budaya bahwa yang menjadi imam shalat di masjid atau musholla adalah yang paling tua. Kaum muslimin kurang memperhatikan siapa yang paling banyak hafalannya atau yang paling bagus baca’annya. Fenomena lebih memilukan akan kita lihat di masjid-masjid dan mushalla-mushalla pedesa’an, para tetua dan pemuka yang baca’annya sudah sangat jauh dari tajwid (sudah hafalannya dikit, lebih banyak salah membacanya pula), didaulat untuk menjadi imam tetap. Para imam ini susah untuk dinasihati dan sama sekali tidak menghiraukan akan kesalahannya.

Pertanya’annya :

“Sahkah shalat kita jika bermakmum dengan imam seperti ituโ€ฆ??”

โ€ข

Tidak sempurna rasanya jika tidak dinukilkan fatwa Ulama yang lebih lengkap dalam masalah ini. Berikut beberapa fatwa Ulama kontemporer tekait hal ini.

~ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : “Ada seorang imam yang suka ber-talhin (tidak sesuai ilmu tajwid) dalam baca’an Al-Qur’an dan terkadang menambah dan mengurangi huruf-huruf ayat Al-Qur’an. Apa hukum shalat bermakmum kepadanya ?”.

Jawaban: “Bila lahn-nya (kesalahannya) tidak merubah makna (ayat), maka tidak apa-apa shalat bermakmum kepadanya, seperti me-nashab-kan kata Rabba atau me-rofa-kannya (Rabbu) di dalam Alhamudlillahi Rabbil Alamin, begitu juga jika me-nashab-kan kata Ar-Rahman atau me-rofa-kannya dan lain-lain. Adapun bila menyebabkan perubahan makna, maka tidak (boleh) shalat bermakmum kepadanya jika orang itu tidak mengambil manfa’at dengan belajar atau diberi tahu (baca’an salahnya) seperti membaca iyyaka na’budu dengan kaf di-kasrah (iyyaki) dan sepeti membaca an-‘amta dengan di-kasrah atau di-dhammah huruf ta-nya.

Bila dia menerima arahan dan memperbaiki baca’annya dengan cara diberitahu oleh makmum, maka shalat dan baca’annya itu sah.

Yang jelas, setiap muslim dalam semua keada’an disyari’atkan mengajari saudaranya, baik dalam shalat atau di luar shalat, karena seorang muslim merupakan saudara muslim lainnya. Dia mengarahkannya bila salah dan mengajari bila bodoh dan membetulkan baca’annya bila terjadi kekeliruan”.

[Fatwa Ibnu Baz Kitab Ad-Da’wah- (Al-Fatawa 1/57)] [Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq].

~ Syaikh DR. Sholih bin Ghanim As-Sadlan

“Yang dimaksud dengan ummi atau lahhan disini adalah orang yang tidak bisa membaca Al-qur’an dengan baik.
(Lihat Al-Mathla’ hal. 10 dan Asy-syarah Ash-Shoghir 1/437)

Menurut Madzhab Asy-Syafi’iyyah, Hambali, dan pendapat Al-Auza’i, ummi itu adalah yang tidak mampu membaca Al-Fatihah dengan sempurna atau beralasan mengucapkan hurufnya atau membacanya dengan baca’an lahhan sehingga merusak arti.
(Lihat Al-Mughni II/195 dan 197 serta Al-Majmu’ IV/166).

Sudah barang tentu orang yang paling mahir membaca Al-Qur’an lebih berhak mengimami shalat daripada seorang ummi atau lahhan. Oleh karena itu, orang yang tidak mahir seharusnya tidak mengimami shalat jama’ah. Berdasarkan sabda Nabi:

“Orang yang mengimami shalat hendaklah yang paling mahir membaca Al-Al-Qur’an”.
(HR. Muslim I/465)

Akan tetapi masalahnya, jika seorang ummi atau lahhan maju mengimami shalat jama’ah, maka bagaimanakah status shalat para makmum ? Apakah harus mengulangi shalat mereka ?

Dalam masalah ini ada empat pendapat ulama yang berbeda:

  • Pendapat pertama.

Tidak sah shalat bermakmum kepadanya dan harus mengulang shalat. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad.
(Lihat Bahrur Ro’iq I/382; At-Taajul Iklil II/98; Al-Majmu’ IV/166; dan Al-Inshaf II/268)

Mereka berdalil dengan hadits:

“Tidak sah shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah”.
(HR Bukhari I/84)

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca Al-Fatihah dengan baik dianggap membaca dengan tidak sempurna. Maka bagi yang shalat bermakmum kepadanya harus mengulangi shalat.

  • Pendapat kedua.

Boleh shalat bermakmum kepadanya dan para makmum tidak perlu mengulang shalat mereka. Ini merupakan pendapat Atha bin Abi Rabbah, Qotadah, Al-Muzani, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir. Mereka beralasan karena si imam yang ummi itu tidak mampu melaksanakan salah satu rukun shalat, sedangkan bagi yang mampu melaksanakannya dibolehkan bermakmum kepada yang tidak mampu.
(Lihat Al-Majmu’ IV/167-168).

  • Pendapat ketiga.

Sebuah riwayat dalam madzhab Asy-Syafi’i dan Hambali yaitu seorang qori’ (yang mahir membaca Al-Qur’an) boleh bermakmum kepada imam yang ummi (tidak bisa membaca) hanya pada shalat-shalat sirriyah dan tidak dibolehkan pada shalat-shalat jahriyyah. Sebab dalam shalat sirriyah, baik imam maupun makmum wajib membaca. Maka dari itu, shalat seorang qori’ yang bermakmum kepada imam yang ummi dianggap sah pada shalat sirriyah tersebut.
(Lihat Al-Majmu’ IV/167 dan Al-Mughni II/30).

  • Pendapat keempat.

Jika seorang ummi mengimami orang-orang yang juga ummi seperti dirinya, maka shalat mereka dianggap sah. Adapun jika si makmum seorang qori’ (yang mahir membaca Al-Qur’an), maka shalat si ummi (imam) dianggap sah sedangkan shalat si qori’ (makmum) dianggap batal (tidak sah). Dan jika imam yang ummi mengimami hanya satu orang makmum yang mahir membaca Al-Qur’an (qori’), maka shalat mereka berdua dianggap batal (tidak sah). Keduanya harus mengulangi shalat.
(Lihat Al-Inshof II/268-270 dan Al-Mughni II/30 dan 41).

Pendapat terpilih:

Pendapat yang terpilih adalah pendapat “keempat”. Hanya saja harus memperhatikan beberapa hal berikut:

๐Ÿ‘‰ Seorang ummi tidak boleh diangkat menjadi imam rotib (imam tetap) sementara ada qori’ yang lebih berhak menjadi imam.

๐Ÿ‘‰ Seorang qori’ tidak boleh mengikuti dari awal sholat imam yang ummi.

๐Ÿ‘‰ Jika si qori’ tidak mengetahui keada’an imam yang ummi itu lalu ia bermakmum kepadanya, maka shalatnya dianggap sah, berdasarkan hadits:

“Sholatlah di belakang (bermakmum) kepada orang yang telah bersaksi laa ilaaha illalloh”.

(Bimbingan Lengkap Sholat Berjama’ah (Sholaatul Jama’ah, Hukmuha wa Ahkamuha wat Tanbih ‘ala maa Yaqo’u fiiha min Bida’ wa Akhtha’, DR. Sholih bin Ghanim As-Sadlan, At-Tibyan).

==========

Tambahkan faedah :

Orang yang paling berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling bagus baca’an Al-Qur’annya. Kalau kemampuannya setara, maka dipilih yang paling dalam ilmu fiqhnya. Kalau ternyata kemampuannya juga setara, maka dipilih yang paling dulu hijrahnya. Kalau ternyata dalam hijrahnya sama, maka dipilih yang lebih dulu masuk Islam.

Dasarnya adalah hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

โ€ูŠุคู… ุงู„ู‚ูˆู… ุฃู‚ุฑุคู‡ู… ู„ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ููŠ ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุณูˆุงุก ูุฃุนู„ู…ู‡ู… ุจุงู„ุณู†ุฉุŒ ูุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุณูˆุงุกู‹ ูุฃู‚ุฏู…ู‡ู… ู‡ุฌุฑุฉุŒ ูุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ููŠ ุงู„ู‡ุฌุฑุฉ ุณูˆุงุกู‹ ูุฃู‚ุฏู…ู‡ู… ุณู„ู…ุงู‹ โ€“ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ โ€“ ุณู†ู‘ุงู‹ ูˆู„ุง ูŠุคู…ู‘ู†ูŽู‘ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌู„ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌู„ูŽ ููŠ ุณู„ุทุงู†ู‡ ูˆู„ุง ูŠู‚ุนุฏ ููŠ ุจูŠุชู‡ ุนู„ู‰ ุชูƒู’ุฑูู…ูŽุชูู‡ ุฅู„ุง ุจุฅุฐู†ู‡โ€œ. ูˆููŠ ู„ูุธ: โ€ูŠุคู… ุงู„ู‚ูˆู… ุฃู‚ุฑุคู‡ู… ู„ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฃู‚ุฏู…ู‡ู… ู‚ุฑุงุกุฉุŒ ูุฅู† ูƒุงู†ุช ู‚ุฑุงุกุชู‡ู… ุณูˆุงุกู‹โ€ฆโ€œ

“Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”.
Dalam riwayat lain : “โ€ฆ..yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”.

Dan dalam lafadh yang lain : “Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau baca’an mereka samaโ€ฆ. (sama seperti lafadh sebelumnya).
[HR. Muslim dalam kitab Al-Masaajid wa Mawaa’idlush-Shalaah, bab : Orang yang paling berhak menjadi imam, no. 673].

Yang paling bagus baca’an Al-Qur’annya, ada yang menafsirkan: yang paling banyak hafalannya. Ada juga yang berpendapat bahwa artinya adalah yang paling bagus tajwid-nya dan paling bagus mutu baca’annya (ุฃุฌูˆุฏู‡ู… ูˆุฃุญุณู†ู‡ู… ูˆุฃุชู‚ู†ู‡ู… ู‚ุฑุงุกุฉ).

Namun yang paling benar adalah pendapat yang pertama, berdasarkan hadits ‘Amr bin Salamah radliyallaahu ‘anhu : “โ€ฆ ูˆู„ูŠุคู…ูƒู… ุฃูƒุซุฑูƒู… ู‚ุฑุขู†ุงู‹” : “โ€ฆ. hendaknya yang mengimami kalian orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya”. (HR. Al-Bukhari no. 4302).

Juga berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ‘anhu : “ูˆุฃุญู‚ู‡ู… ุจุงู„ุฅู…ุงู…ุฉ ุฃู‚ุฑุคู‡ู…” : “Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling bagus baca’an Al-Qur’annya”.
(HR. Muslim no. 672)

Maknanya : yang paling banyak hafalannya. Akan tetapi jika mereka sama dalam hafalan Al-Qur’annya dimana seluruh orang yang shalat atau orang yang akan dimajukan sebagai imam telah hafal Al-Qur’an, baru dipilih mana yang paling mantap (ูƒุงู† ุฃุชู‚ู†ู‡ู… ู‚ุฑุงุกุฉ ูˆุฃุถุจุท ู„ู‡ุง) dan bagus baca’annya. Karena itulah arti yang paling bagus Al-Qur’annya bagi mereka semua yang dalam hafalan sama. (Lihat Al-Mufhim oleh Al-Qurthubi 2/297, Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 2/14, dan Nailul-Authar oleh Asy-Syaukani 2/390).

Semoga bermanfa’at
Barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: