MUTIARA-QOLBU

Perlukah Shalat Tahiyatul Masjid di Mushalla…??

Memang cukup banyak variasi nama tempat shalat di negara kita, yaitu mushalla, langgar, surau, masjid, masjid jami’ dan masjid agung.

Mushalla, yang arti harfiahnya adalah tempat shalat, disepakati oleh masyarakat Indonesia sebagai tempat shalat lima waktu secara berjamaah oleh umat Islam di sekitarnya, tapi tidak digunakan untuk shalat Jum’at.

Langgar sebenarnya sama dengan mushalla, hanya saja istilah ini dikenal oleh orang-orang Jawa dan Betawi. Biasanya, orang-orang dari Jawa akan menggoda temannya yang belum mengerti istilah “Langgar”.
Mereka akan bertanya, “Bolehkah shalat di Langgar ?”
Tentunya, yang tidak mengetahui istilah “Langgar” akan mendengar pertanya’an tersebut menjadi, “Bolehkan shalat dilanggar ?” Pastilah dijawab TIDAK BOLEH. Lazimnya akan terjadi sebuah perdebatan, namun tetap diakhiri dengan tertawa bareng (bersama), karena tujuannya memang untuk menggoda 😀😀

Surau adalah tempat shalat, biasanya di tempat orang-orang Melayu, dan ini pun sama dengan mushalla.

Masjid, yang arti harfiahnya yaitu tempat bersujud kepada Allah Ta’ala, disetujui oleh masyarakat Indonesia sebagai tempat untuk melaksanakan shalat lima waktu dan shalat Jum’at.

Masjid jami’ adalah masjid terbesar di sebuah kecamatan. Keberadaan masjid ini sudah mulai berkurang, karena sekarang masjid di kampung-kampung pun sudah begitu besar.

Masjid agung adalah masjid terbesar di sebuah kota atau kabupaten. Biasanya, di depan masjid agung terdapat pelataran luas yang dikenal dengan nama alun-alun. Kata “alun-alun” berasal dari bahasa Arab al-lawn yang berarti warna, ragam atau corak. Kata ini diucapkan dua kali al-lawn al-lawn (alun-alun) yang maksudnya adalah bahwa tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya segala lapisan masyarakat, rakyat kecil, kaya maupun para pemimpin.

Berkena’an dengan “perlukah shalat tahiyatul masjid di mushalla, surau, atau langgar”, MAKA TIDAK PERLU KITA MELAKUKANNYA.

Namun sebelum kita jelaskan sisi pendalilannya, mari kita bahas dulu tentang perbeda’an mushalla dan masjid. Karena banyak diantara kita yang memahami bahwa mushalla berarti masjid yang berukuran kecil, dan pemahaman ini salah.

Perbeda’an mendasar antara mushalla dan masjid terletak pada “status Tanah Wakaf”.

Bangunan diatas tanah “berstatus wakaf” yang didirikan untuk tempat shalat dinamakan masjid, meskipun ukurannya kecil.

Sebaliknya, bangunan yang didirikan untuk tempat shalat namun “belum di Wakaf kan”, maka dinamakan mushalla, meskipun ukurannya besar.

Berarti, setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid. Tidak bergantung pada besar kecilnya ukuran seperti pemahaman masyarakat umum.

Contoh mushalla yang sering kita jumpai: mushalla di airport, mushalla di terminal, mushalla di stasiun, mushalla di mall, mushalla di kantor, dan lain lain.

Adapun tentang shalat Tahiyatul Masjid di mushalla, Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang bangunan atau tempat ibadah yang disediakan di kantor untuk shalat, dengan status sewa. Apakah bisa dihukumi masjid ?

Beliau menjawab:

هذا ليس له حكم المسجد ، هذا مصلى بدليل أنه مملوك للغير وأن مالكه له أن يبيعه ، فهو مصلى وليس مسجدا فلا تثبت له أحكام المسجد…

“Bangunan ini tidak memiliki hukum masjid, ini tempat shalat (mushalla ), karena dimiliki orang lain (bukan wakaf), dan pemiliknya berhak menjualnya. Ini hanya mushalla dan bukan masjid, sehingga tidak memiliki hukum masjid…”.

Beliau ditanya lagi,

سؤال : ولا تشرع تحية المسجد ؟

“Berarti tidak dianjurkan shalat Tahiyatul Masjid ?”.

Beliau jawab,

الجواب : ولا تشرع ، لكن له أن يصلي سنة عادية

“Tidak dianjurkan, namun boleh didirikan sholat sunnah seperti biasa (sunnah mutlaq)”.
(Fatawa Islam no. 4399).

Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah juga menjelaskan tentang ibadah yang menjadi kekhususan Masjid, hanya boleh dilakukan di masjid, salah satunya adalah Tahiyatul Masjid.

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak harus dilakukan di masjid, kecuali shalat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf”.
(Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329).

Jadi, apabila di rumah kita ada sebuah tempat khusus, misalnya sebuah bangunan kecil, ruangan atau kamar kosong yang digunakan untuk shalat oleh anggota keluarga, dalam fiqh tempat ini disebut mushalla. Begitu pula tempat shalat di pom bensin (SPBU), Airport, Terminal, Stasiun, Mall, Kantor dan lain-lain yang merupakan milik pribadi pengusaha serta tidak digunakan berjama’ah setiap waktu oleh masyarakat setempat, dalam terminologi fiqh juga disebut mushalla. Jadi kita harus berhati-hati dengan sebuah istilah karena istilah yang berkembang di masyarakat bisa jadi berbeda dengan istilah dalam fiqh.

Dari penjelasan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa shalat Tahiyyatul Masjid bisa dilakukan di masjid atau masjid Jami’ menurut definisi fiqh. Adapun menurut istilah masyarakat yaitu mushalla, maka shalat Tahiyyatul Masjid bisa dilakukan di mushalla yang digunakan berjama’ah setiap waktu oleh masyarakat, karena hal ini sama dengan masjid menurut fiqh. Adapun mushalla di pom bensin (SPBU), Airport, Terminal, Stasiun, Mall, Kantor atau semacamnya tidak bisa digunakan untuk shalat Tahiyyatul Masjid, tapi lakukanlah yang lain seperti shalat sunnah wudhu, qabliyah, ba’diyah, ataupun shalat sunnah Mutlaq.

Walahu a’lam.

Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon petunjuk.

Barakallahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: